Emas Pertahankan Kenaikan di Atas US$4.100 saat USD Berjuang di Dekat Terendah Akhir September

05 Nov 2026   •   6
Emas Pertahankan Kenaikan di Atas US$4.100 saat USD Berjuang di Dekat Terendah Akhir September
  • Emas melanjutkan reli lebih jauh melampaui US$4.100 karena aksi jual USD yang didorong oleh pemilu AS masih terus berlanjut.
  • Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan membebani imbal hasil obligasi AS, yang semakin mendukung komoditas ini.
  • Ekspektasi bank sentral yang hawkish dapat membatasi emas batangan karena para pedagang sangat menantikan laporan NFP AS.

Emas (XAU/USD) mempertahankan bias positif selama dua hari berturut-turut pada hari Kamis, diperdagangkan di atas US$4.100 di dekat level tertinggi dua minggu selama awal sesi Eropa. Dolar AS (USD) memperpanjang dampak dari hasil pemilu AS, turun ke level terendah baru sejak akhir September dan membantu komoditas tersebut melanjutkan reli kuat hari sebelumnya sebesar lebih dari 3,5%—kenaikan satu hari terbesar sejak pertengahan Agustus.

Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS menghilangkan sumber utama ketidakpastian dan menurunkan ekspektasi bahwa Presiden AS Donald Trump akan melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Faktanya, Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berjanji pada hari Rabu untuk mendorong diakhirinya perang Iran dan mengatakan bahwa partainya dapat menggunakan kendali atas pendanaan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut. Optimisme ini menyeret harga minyak mentah ke level terendah dua bulan, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi. Selain itu, ekspektasi bahwa kebuntuan fiskal di Washington dapat membatasi belanja pemerintah semakin menekan imbal hasil obligasi AS, yang membuat USD tetap tertekan dan bertindak sebagai pendorong bagi komoditas ini.

Reaksi Dolar Terbatas meskipun Kemenangan Demokrat Sangat Besar

Para analis MUFG/BTMU mengamati bahwa "skala kemenangan Partai Demokrat – yang melampaui seluruh prediksi yang dilaporkan sebelumnya – tidak diimbangi oleh besarnya pergerakan di pasar keuangan," dengan Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sejauh ini hanya mengalami sedikit penurunan. Mereka berpendapat bahwa perubahan lanskap politik masih dapat menjadi faktor penentu bagi mata uang tersebut: "Hal itu tentu akan membalikkan penurunan Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah yang sedang kita saksikan saat ini," apabila perkembangan berikutnya mendorong pasar untuk menilai ulang risiko kebijakan atau geopolitik. Sebaliknya, MUFG/BTMU menyatakan bahwa "jika Trump tidak menyerang Iran dan memandang penolakan pemilih terhadap kebijakannya ini sebagai alasan untuk mengupayakan kesepakatan, pelemahan Dolar AS yang berlanjut jauh lebih mungkin terjadi," menggarisbawahi bagaimana respons kebijakan pascapemilu dapat menentukan apakah koreksi Dolar AS saat ini akan semakin dalam atau justru berbalik arah.

Meskipun terjadi perubahan politik, ekspektasi terhadap pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) AS sebagian besar masih bertahan. Menurut FedWatch Tool dari CME Group, para pedagang masih memperhitungkan probabilitas lebih dari 80% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada Desember. Ekspektasi tersebut kembali diperkuat oleh laporan ADP AS yang lebih baik dari perkiraan, yang menunjukkan bahwa lapangan kerja sektor swasta bertambah 86.000 pada Oktober 2026, menyamai angka bulan sebelumnya yang telah direvisi turun. Secara terpisah, Indeks Menejer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 54,5 bulan lalu dari 54,9 pada September, tetapi tetap berada di atas ambang batas 50 yang menandakan berlanjutnya ekspansi.

Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral utama lainnya dapat turut membatasi kenaikan Emas yang tidak memberikan imbal hasil. Bank of England (BoE) secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan kebijakan hari ini. Sementara itu, risalah pertemuan Bank Of Japan (BoJ) pada September mengungkapkan bahwa para pembuat kebijakan memperdebatkan perlunya melanjutkan kenaikan suku bunga, bahkan dengan laju yang berpotensi lebih cepat. Di samping itu, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember oleh European Central Bank (ECB) dan Swiss National Bank (SNB). Oleh karena itu, kehati-hatian tetap diperlukan sebelum mengambil posisi untuk mengantisipasi kenaikan lebih lanjut pada logam mulia tersebut.

Para pedagang juga mungkin memilih menunggu rilis data ketenagakerjaan bulanan AS yang sangat dinantikan, yakni laporan NonFarm Payrolls (NFP), pada Jumat. Data penting tersebut, bersama dengan pidato para anggota FOMC yang berpengaruh, akan dicermati untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed ke depan dan menjadi penggerak permintaan Dolar AS dalam jangka pendek. Selain itu, perkembangan lebih lanjut terkait krisis Timur Tengah dapat memicu volatilitas dan memberikan dorongan bagi harga Emas.

Login Sign Up