Gold & DXY Radar Selasa 24 Maret 2026: Emas Bertahan, Dolar Kehilangan Taji di Tengah Jeda Panas Timur Tengah
SobatPro, market Selasa 24 Maret 2026 dibuka dengan nuansa yang lebih tenang, tetapi belum benar-benar aman. Pemicu utamanya datang dari keputusan Donald Trump yang menunda serangan ke infrastruktur energi Iran selama lima hari. Langkah ini langsung meredakan ketakutan pasar atas shock energi, mendorong saham global rebound, menekan harga minyak dari lonjakan ekstrem, serta membuat dolar AS dan yield Treasury sama-sama melemah. Namun Iran membantah adanya pembicaraan damai, sehingga sentimen masih sangat rapuh dan headline-driven.
Dari sisi gold, harga sempat jatuh tajam di awal pekan hingga area rendah sekitar 4.100, lalu mulai menata pijakan kembali di kisaran 4.3xx–4.4xx. Pola pada chart menunjukkan tekanan jual besar masih membekas, tetapi laju turun mulai melambat dan pasar mencoba membangun stabilisasi jangka pendek. Secara fundamental, ini masuk akal karena emas kembali mendapat ruang setelah dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi ikut turun. Reuters mencatat spot gold sempat menyentuh empat bulan terendah sebelum memangkas penurunan setelah sentimen de-eskalasi muncul.
Untuk DXY, gambarnya juga cukup jelas. Dolar sempat melesat karena arus aman, tetapi reli itu gagal dipertahankan dan berbalik turun cepat. Chart memperlihatkan bahwa DXY kini sedang dalam fase kehilangan momentum, meski belum sepenuhnya masuk tren lemah yang solid. Secara fundamental, pelemahan dolar datang dari kombinasi risk sentiment yang membaik, turunnya yield, dan mulai berkurangnya permintaan safe haven setelah ultimatum Iran diperpanjang. Reuters melaporkan dolar berada di bawah tekanan pada sesi Asia setelah pasar merespons penundaan serangan dan jatuhnya harga minyak.
Tambahan tekanan untuk dolar juga datang dari turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga agresif. Saat harga energi mendingin dari puncaknya, pasar mulai memangkas taruhan kenaikan suku bunga lanjutan dari bank sentral besar. Di saat yang sama, yield Treasury AS ikut turun, dan itu mengurangi daya tarik dolar dalam jangka pendek. Jadi, narasi hari ini bukan dolar hancur, melainkan dolar sedang goyah karena faktor pendukung utamanya melemah sementara.
Dari Asia, faktor Jepang ikut memberi warna. Inflasi inti Jepang Februari turun ke 1,6%, di bawah target 2% BoJ untuk pertama kali sejak 2022. Ini membuat ruang Bank of Japan untuk lebih agresif menjadi lebih sempit. Efeknya, yen memang tidak punya bahan kuat untuk reli besar, sehingga penurunan dolar terhadap yen juga menjadi lebih terbatas. Itu terlihat pada USDJPY yang sempat terkoreksi, tetapi masih bertahan di area tinggi. Artinya, dolar melemah, tapi yen juga belum cukup kuat untuk mengambil alih panggung sepenuhnya.
Untuk kalender ekonomi hari ini, pasar juga akan memantau rilis Flash PMI Jerman, Inggris, dan AS. Data ini penting karena bisa menentukan apakah pelemahan dolar hari ini hanya jeda, atau justru berkembang menjadi tekanan lanjutan. Jika PMI AS tetap solid, DXY bisa kembali mendapat penopang. Sebaliknya, jika data Eropa membaik dan data AS melunak, tekanan ke dolar bisa berlanjut sementara emas berpotensi tetap ditopang.
Kesimpulannya, Gold hari ini sedang mencoba bangkit dari tekanan besar, sementara DXY sedang kehilangan tenaga setelah sentimen risk-off mereda. Tetapi selama konflik Timur Tengah belum benar-benar selesai dan narasi negosiasi masih simpang siur, pergerakan market berpotensi tetap cepat dan tidak stabil. SobatPro, ini fase yang menuntut pembacaan fundamental yang jernih, bukan sekadar ikut euforia sesaat. Untuk update market harian yang lebih terarah, singkat, dan mudah dibaca, hubungi tim asiaprofx.
#TradingLebihBaik di www.asiaprofx.com
Disclaimer: Transaksi PBK berisiko tinggi. Informasi ini bersifat edukasi, bukan saran investasi. Selalu lakukan analisis pribadi sebelum membuat keputusan trading.