Harga Minyak Turun Setelah Presiden Trump Mengatakan Venezuela Mengirim Minyak Menuju United States

Harga Minyak Turun Setelah Presiden Trump Mengatakan Venezuela Mengirim Minyak Menuju United States

Harga minyak dunia turun pada Rabu (7 Januari) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat.

Minyak mentah WTI AS turun 78 sen (1,37%) menjadi USD 56,35 per barel, sementara Brent turun 61 sen (1%) menjadi USD 60,09 per barel. Penurunan ini melanjutkan pelemahan lebih dari USD 1 pada sesi sebelumnya.

Pasar menilai bahwa pasokan minyak global akan melimpah tahun ini, ditambah ketidakpastian produksi minyak Venezuela setelah Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.

Trump menyatakan bahwa minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar, dan dana hasil penjualannya akan dikontrol oleh Presiden AS untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS lebih memilih menambah pasokan minyak, yang semakin memperkuat kekhawatiran kelebihan pasokan global.

Kesepakatan antara Venezuela dan AS kemungkinan akan mengalihkan pengiriman minyak yang semula ditujukan ke China, menurut sumber Reuters. Minyak utama Venezuela, Merey, dijual sekitar USD 22 per barel di bawah harga Brent, sehingga nilai kesepakatan bisa mencapai USD 1,9 miliar.

Saat ini, aliran minyak Venezuela tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra utama PDVSA, berdasarkan izin dari pemerintah AS. Chevron mengekspor sekitar 100.000–150.000 barel per hari minyak Venezuela ke AS dan menjadi satu-satunya perusahaan yang tetap mengirim minyak tanpa gangguan dalam beberapa pekan terakhir.

Analis menilai ekspor minyak Venezuela ke AS mengganggu pasar minyak AS dan memperparah kelebihan pasokan global. Melemahnya pasar minyak fisik sempat terabaikan akibat perhatian pada isu geopolitik, terutama di awal tahun.

Harga minyak dari Timur Tengah juga terus melemah dan menjadi yang terlemah dalam perdagangan lintas kawasan, sehingga minat investor untuk membeli menurun.

Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global bisa mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026, akibat pertumbuhan permintaan yang lemah dan meningkatnya produksi dari OPEC dan negara non-OPEC.

Sementara itu, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 2,77 juta barel minggu lalu, meskipun stok bahan bakar mengalami kenaikan.

#TradingLebihBaik di www.asiaprofx.com
Disclaimer: Transaksi PBK beresiko tinggi. Informasi ini bersifat edukasi, bukan saran investasi. Selalu lakukan analisis pribadi sebelum membuat keputusan trading.

Komunitas AsiaproFx

Bergabung bersama Komunitas Whatsapp AsiaproFx

Chat via WhatsApp
Tutup